Mengapa Kita Sering Menunda Pekerjaan meski Tahu Itu Penting?
![]() |
| Menunda pekerjaan tidak selalu berarti malas. Kenali penyebabnya dan mulai atasi dengan langkah kecil. |
Mengapa Kita Sering Menunda Pekerjaan meski Tahu Itu Penting?
Pernahkah kamu memiliki pekerjaan yang harus segera diselesaikan, tetapi justru memilih membuka media sosial, menonton video, atau melakukan hal lain yang sebenarnya tidak terlalu penting?
Kamu tahu pekerjaan itu harus diselesaikan. Kamu juga mungkin sudah memikirkan akibatnya jika terus menunda. Namun, entah mengapa, rasanya sulit sekali untuk mulai mengerjakannya.
Akhirnya, pekerjaan baru dikerjakan ketika waktu sudah semakin sempit. Kamu pun merasa terburu-buru, lelah, bahkan menyesal karena tidak memulainya lebih awal.
Jika pernah mengalaminya, kamu tidak sendirian.
Kebiasaan menunda pekerjaan dikenal sebagai prokrastinasi. Menariknya, kebiasaan ini tidak selalu terjadi karena seseorang malas. Ada beberapa alasan psikologis dan kebiasaan sehari-hari yang bisa membuat kita sulit memulai pekerjaan.
1. Pekerjaan Terasa Terlalu Besar
Salah satu alasan kita menunda pekerjaan adalah karena tugas tersebut terasa berat atau rumit.
Bayangkan kamu harus membersihkan seluruh rumah, menyusun laporan panjang, atau menulis artikel yang belum memiliki kerangka. Ketika membayangkan semua pekerjaan itu sekaligus, kamu mungkin sudah merasa lelah sebelum memulainya.
Pikiran kita melihat tugas tersebut sebagai sesuatu yang besar dan membutuhkan banyak tenaga. Akibatnya, kita terdorong untuk menghindarinya sementara waktu.
Apa yang bisa dilakukan?
Pecah pekerjaan besar menjadi beberapa langkah kecil.
Jika ingin membersihkan rumah, jangan langsung berpikir harus membereskan semuanya. Mulailah dengan merapikan meja, mencuci beberapa piring, atau membersihkan satu sudut ruangan.
Untuk pekerjaan menulis, mulailah dengan membuat judul dan tiga poin utama.
Langkah kecil membuat pekerjaan terasa lebih mudah dimulai. Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya sekaligus.
2. Kita Ingin Menghindari Perasaan Tidak Nyaman
Tidak semua pekerjaan menyenangkan.
Ada pekerjaan yang membosankan, membuat kita khawatir melakukan kesalahan, atau menuntut konsentrasi tinggi. Ketika menghadapi tugas seperti ini, kita mungkin memilih melakukan sesuatu yang terasa lebih menyenangkan.
Misalnya, kamu harus menyelesaikan laporan. Namun, membuka media sosial terasa lebih ringan dan menyenangkan dibandingkan memeriksa angka satu per satu.
Saat memilih aktivitas yang menyenangkan, perasaan tidak nyaman itu mungkin berkurang untuk sementara. Sayangnya, pekerjaan utama tetap menunggu.
Inilah salah satu alasan kebiasaan menunda bisa terus berulang: kita memperoleh kelegaan sesaat dengan menghindari tugas yang terasa tidak menyenangkan.
Apa yang bisa dilakukan?
Akui perasaanmu tanpa harus menuruti semuanya.
Kamu bisa berkata kepada diri sendiri, "Pekerjaan ini memang membosankan, tetapi aku hanya perlu mengerjakan bagian pertama selama lima menit."
Tujuannya bukan memaksa diri agar langsung bersemangat. Tujuannya adalah mulai bertindak meskipun suasana hati belum ideal.
3. Kita Menunggu Waktu dan Suasana yang Tepat
Pernah berkata, "Nanti saja kalau sudah lebih santai," atau "Besok pagi aku pasti lebih bersemangat"?
Kita terkadang menunggu waktu yang dianggap paling tepat untuk mulai bekerja. Kita berharap suasana hati membaik, pikiran lebih tenang, atau energi kembali penuh.
Padahal, waktu yang benar-benar ideal tidak selalu datang.
Ketika satu kesempatan berlalu, kita bisa menemukan alasan lain untuk menunda. Akhirnya, pekerjaan yang sebenarnya dapat dimulai hari ini kembali bergeser ke hari berikutnya.
Apa yang bisa dilakukan?
Jangan menunggu motivasi datang. Buatlah langkah awal yang sederhana.
Jika ingin menulis, buka dokumennya dan tulis satu paragraf. Jika ingin berolahraga, kenakan pakaian olahraga dan mulailah bergerak sebentar.
Terkadang, tindakan kecil justru membantu kita membangun momentum untuk melanjutkan pekerjaan.
4. Kita Takut Hasilnya Tidak Sempurna
Ada orang yang menunda karena tidak tahu harus mulai dari mana. Ada pula yang menunda karena ingin hasil pekerjaannya sempurna.
Mereka mungkin terlalu lama memikirkan kalimat pembuka, takut melakukan kesalahan, atau merasa hasil pertama harus langsung bagus.
Akibatnya, pekerjaan tidak kunjung dimulai.
Padahal, membuat sesuatu dan memperbaikinya merupakan dua proses yang berbeda. Kita tidak harus menghasilkan sesuatu yang sempurna pada percobaan pertama.
Apa yang bisa dilakukan?
Izinkan diri sendiri membuat draf awal yang belum sempurna.
Jika sedang menulis artikel, selesaikan dulu gagasan utamanya. Setelah itu, periksa kembali susunan kalimat, ejaan, dan informasi yang digunakan.
Jika sedang menyusun rencana, buatlah versi awal terlebih dahulu. Kamu masih bisa memperbaikinya setelah melihat gambaran keseluruhan.
Ingat, hasil yang bisa diperbaiki biasanya lebih berguna daripada rencana sempurna yang tidak pernah diwujudkan.
5. Gangguan Kecil Membuat Kita Kehilangan Fokus
Niat awalnya hanya memeriksa satu pesan. Namun, setelah membuka ponsel, kita melihat notifikasi lain, membaca komentar, lalu berpindah ke video berikutnya.
Tanpa terasa, waktu berlalu cukup lama.
Ponsel, notifikasi, percakapan, dan kebiasaan berpindah-pindah aktivitas dapat mengganggu konsentrasi. Ketika perhatian terus teralihkan, pekerjaan utama menjadi lebih sulit diselesaikan.
Apa yang bisa dilakukan?
Saat mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi, cobalah menjauhkan ponsel untuk sementara atau mematikan notifikasi yang tidak mendesak.
Kamu juga bisa menggunakan metode sederhana: bekerja selama 15 menit tanpa gangguan, kemudian beristirahat sebentar.
Tidak perlu langsung memaksakan diri bekerja berjam-jam. Mulailah dari durasi yang terasa realistis, lalu sesuaikan dengan kebutuhan.
6. Kita Terlalu Mengandalkan Tenggat Waktu
Sebagian orang merasa baru bisa bekerja dengan baik ketika tenggat waktu sudah dekat.
Ketika waktu masih panjang, pekerjaan terasa belum mendesak. Akibatnya, kita merasa masih memiliki banyak kesempatan untuk mengerjakannya nanti.
Namun, ketika batas waktu semakin dekat, tekanan meningkat. Kita pun mulai bekerja dengan terburu-buru.
Memang, tenggat waktu yang dekat terkadang membantu kita lebih fokus. Akan tetapi, terlalu sering mengandalkannya bisa membuat pekerjaan terasa lebih melelahkan dan meningkatkan risiko kesalahan.
Apa yang bisa dilakukan?
Buat tenggat waktu kecil sebelum batas waktu sebenarnya.
Jika laporan harus selesai pada hari Jumat, misalnya, tetapkan target menyelesaikan kerangka pada hari Selasa dan draf awal pada hari Rabu.
Dengan begitu, pekerjaan tidak menumpuk di saat-saat terakhir.
7. Lelah Juga Bisa Membuat Kita Menunda
Kita tidak selalu menunda karena kurang disiplin. Terkadang, tubuh dan pikiran memang membutuhkan istirahat.
Kurang tidur, beban pekerjaan yang berlebihan, stres, dan terlalu banyak hal yang harus dipikirkan dapat membuat kita kesulitan berkonsentrasi atau memulai tugas.
Jika setiap hari terasa berat, memaksakan diri bekerja tanpa memperhatikan kondisi tubuh belum tentu menjadi solusi terbaik.
Apa yang bisa dilakukan?
Perhatikan kebutuhan dasar seperti tidur yang cukup, makan teratur, dan waktu istirahat.
Jika pekerjaan terasa terlalu banyak, tentukan mana yang paling penting dan mana yang bisa dijadwalkan ulang.
Belajar mengatur tenaga sama pentingnya dengan belajar mengatur waktu.
Namun, jika kesulitan memulai tugas berlangsung terus-menerus, sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, atau disertai perubahan suasana hati yang menetap, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Cara Sederhana Memulai Pekerjaan yang Terus Ditunda
Setelah mengetahui beberapa penyebabnya, bagaimana cara mulai mengubah kebiasaan ini?
Kamu bisa mencoba langkah-langkah berikut.
1. Pilih satu pekerjaan yang paling penting.
Jangan langsung membuat daftar panjang yang justru membuatmu kewalahan. Tentukan satu pekerjaan yang perlu mendapat perhatian lebih dulu.
2. Tentukan langkah pertama yang sangat kecil.
Jangan hanya menulis "menyelesaikan laporan". Ubah menjadi "membuka dokumen dan menulis tiga poin utama".
3. Gunakan aturan lima menit.
Cobalah mengerjakan tugas tersebut selama lima menit saja. Setelah itu, kamu boleh memutuskan apakah ingin melanjutkan atau beristirahat sebentar.
4. Kurangi satu gangguan.
Letakkan ponsel agak jauh, tutup tab yang tidak diperlukan, atau pilih tempat yang lebih tenang.
5. Berhenti menunggu suasana hati sempurna.
Kamu boleh merasa belum bersemangat. Mulailah dengan langkah kecil sambil memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk menyesuaikan diri.
6. Hargai kemajuan kecil.
Jika hari ini kamu berhasil memulai pekerjaan yang biasanya ditunda, itu sudah merupakan langkah maju. Tidak semua kemajuan harus terlihat besar untuk menjadi berarti.
Kesimpulan
Mengapa kita sering menunda pekerjaan meski tahu itu penting?
Penyebabnya bisa beragam, mulai dari tugas yang terasa terlalu besar, keinginan menghindari perasaan tidak nyaman, takut hasilnya tidak sempurna, gangguan di sekitar, hingga kondisi tubuh dan pikiran yang sedang lelah.
Karena itu, kebiasaan menunda tidak selalu bisa diatasi hanya dengan menyuruh diri sendiri agar lebih rajin.
Terkadang, kita perlu membuat pekerjaan lebih sederhana, mengurangi gangguan, mengatur waktu dengan realistis, dan memahami apa yang sebenarnya membuat kita enggan memulai.
Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini. Namun, kamu bisa memilih satu langkah kecil untuk memulainya.
Jadi, pekerjaan apa yang belakangan ini terus kamu tunda? Cobalah luangkan lima menit untuk mengerjakannya hari ini. Siapa tahu, langkah kecil itu menjadi awal dari kemajuan yang selama ini kamu tunggu.
Rumah Kreatif — Tips Praktis untuk Kehidupan Sehari-hari.
